Belajar Mengukur Karbon di Gunungkidul

Javlec bekerjasama dengan Latin pada tanggal 24 hingga 26 Februari 2012 mengajak perwakilan Kelompok Tani Sedyo Makmur, Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan, Kelompok Hutan Rakyat Lestari, dan Dinas Perkebunan dan Kehutanan Gunungkidul untuk belajar mengenai cara pengukuran karbon. Kegiatan yang diikuti oleh 33 peserta ini merupakan bagian dari upaya untuk mengajak masyarakat mengetahui tentang adanya nilai lahannya di luar kayu.

“Masyarakat perlu mengetahui adanya kebijakan pemerintah untuk menurunkan emisi karbon. Saat ini muncul isu mengenai skema REDD, apabila nanti hal tersebut terlaksana, masyarakat diharapkan bisa ambil bagian termasuk mendapat manfaat ekonomi dari hal tersebut. Sebelum menuju perdagangan karbon, masyarakat perlu mengetahui jika karbon di lahan mereka ada konpensasinya,” tutur Puji Raharjo yang menjadi pendamping program.

Ia juga menambahkan jika masyarakat di daerah Ngepohsari, Dengok, Kedungkeris, dan Girisekar sudah melakukan pengelolaan hutan. Skema perdagangan karbon ini diharapkan bisa memberi intensif yang bisa meningkatkan kesejahteraan  masyarakat. “Meskipun saat ini belum ada calon pembeli karbon, masyarakat perlu menyiapkan barang yang nantinya akan dijual terlebih dahulu. Jika dihitung biomassa pohonnya, kawasan hutan yang dikelola Sedyo Makmur dan Kelompok Tani Manunggal mungkin menyimpan 3 hingga 4 ton karbon perhektarnya. Itu belum termasuk kandungan karbon yang tersimpan dalam tanah, daun, dan seresah,” tambah Puji.

Pelatihan ini mendatangkan Profesor Kurniatun Hairiah dan timnya dari Universitas Brawijaya, Malang. Sebelum memasuki sesi cara penghitungan karbon, seluruh peserta diajak berdiskusi mengenai perubahan iklim. Dalam presentasinya, pemateri menyampaikan mengenai kegunaan penyerapan karbon untuk mengurangi efek rumah kaca sehingga muncul ide untuk pemberian imbal jasa lingkungan. “REDD atau Reduced Emission from Deforestation and (forest) Degradation adalah pemberian insentif positif kepada negara berkembang yang berhasil mengurangi emisi efek rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan. Untuk mengajukan hal ini, sebelumnya pengelola hutan harus bisa melakukan pengukuran, pelaporan, dan pembuktian mengenai besaran karbon yang ada di lahannya,” tutur Profesor yang biasa dipanggil Ibu Cho ini.

Untuk mempermudah peserta memahami dan mengingat cara menghitung karbon, pada hari kedua peserta praktek langsung cara menghitung karbon. Mereka dibagi menjadi dua kelompok. Dengan didampingi oleh tim dari Universitas Brawijaya, peserta mulai mengukur lingkar pohon, menimbang berat tanah, dan berat seresah.  Setelah itu peserta kemudina bersama-sama melakukan analisa mengenai angka kandungan karbonnya.

Add a Comment

EnglishIndonesian