Fenomena Tebang Butuh

Tebang butuh adalah penebangan pohon yang dilakukan secara mendadak oleh petani atau pemilik hutan rakyat untuk memenuhi kebutuhan yang mendadak seperti biaya berobat, hajatan, biaya sekolah, perbaikan rumah dan lain sebagainya. Di Gunung Kidul, fenomena tebang butuh telah melekat dalam pengusahaan hutan rakyat.

“Kayu ini kan tabungan, jadi kalau ada kebutuhan… ya kami jual”, demikian ungkap Surandal, salah satu tokoh petani hutan di Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar Fenomena tebang butuh merupakan konsekuensi realistis dari keberadaan hutan rakyat di Gunung Kidul. Bagi petani budidaya pohon berkayu memang berfungsi sebagai tabungan (saving) –  bukan investasi. Surandal melanjutkan, “pada waktu-waktu tertentu khusus banyak yang mau jual kayu, karena banyak yang butuh. Biasanya pada musim hajatan dan musim masuk sekolah. Jadi ya… harganya jadi murah”

Memang, pedagan kayu acap memanfaatkan konmdisi ini untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi. Musim hajatan selalu berlangsung pada hari dan bulan baik menurut perhitungan kalender Jawa, sementara keperluan sekolah selalu melonjak menjelang tahun ajaran baru. Hampir dipastikan, harga kayu selalu lebih murah pada waktu-waktu tersebut. Para pedangan kayu tidak perlu berkeliling desa untuk mencari pohon/kayu seperti biasanya. Dan ketika petani sebagai produsen mencara pedangan kayu, maka dapat dipastikan bahwa harganyapun tidak akan mampu maksimal.

sumber : buku “merajut mimpi dari gelondong jati”