Jaga Stabilitas Mata Air serta Cegah Bencana Alam, Aqua dan Javlec Ajak Stakeholder Rembug Konservasi

PT Tirta Investama Aqua Subang bersama Yayasan Javlec Indonesia menggelar forum rembug konservasi di aula BP4D Kabupaten Subang, Selasa (27/11). Forum Rembug Konservasi untuk memaksimalkan pengelolaan sumber daya air secara terpadu (Integrated Water Resources Management), dengan memperhatikan kearifan dan berbagai peran para pihak di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Cipunagara. Bagaimana hasilnya?

forum rembug konservasi javlec-aqua
DISKUSI: Kepala BP4D Sumasna membuka acara forum rembug konservasi untuk pengelolaan sumber daya air secara terpadu, Selasa 27 November 2018 (foto : pasundan express)

Kepala BP4D H Sumasna mengatakan, pihaknya mengapresiasi dan sangat mendukung diskusi forum rembug konservasi untuk menjaga stabilitas ketersediaan air, baik kuantitas maupun kualitas. Menurutnya, berbagai bencana alam yang terjadi di Subang Selatan beberapa tahun ke belakang bukan murni karena alam. Tetapi adanya faktor kelalaian manusia dalam memperlakukan alam, sehingga alam melawan.

“Ini tidak bisa dibiarkan. Jawabannya adalah konservasi yang menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga alam ini. Melalui rembug konservasi ni, saya berharap ada program yang berkelanjutan untuk konservasi yang tepat sasaran, agar stabilitas air tetap terjaga demi masa depan anak cucu kita,” katanya

Sementara itu, Plant Manager PT Tirta Investama Pabrik Subang, Dwi Nofriyadi mengatakan, dalam kegiatan operasionalnya, Aqua memiliki komitmen ganda, untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis dari sisi finansial dan keberhasilan sosial lingkungannya. Komitmen tersebut, diwujudkan melalui Aqua Lestari sebagai acuan program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) yang berkelanjutan.

PT Tirta Investama Aqua Pabrik Subang, kata Dwi, komitmen untuk terus mengembangkan program konservasi lingkungan guna menjaga stabilitas mata air di Kawasan Subang Selatan. Program konservasi tentunya menjadi prioritas. Setiap tahunnya, PT Tirta Investama menanam 10.000 bibit pohon untuk konservasi.

Forum Rembug Konservasi untuk mendiskusikan permasalahan di lapangan, kemudian ditanggapi oleh instansi pemerintahan dan perusahaan. “Pada intinya kami siap mendukung sesuai kemampuan dan program perusahaan,” kata Dwi melalui Stakeholder Manager CSR Zaenal Abidin.

Sementara itu, Vendor dari Yayasan Javlec Indonesia Apriliyanti Dwi Rahayu menuturkan, kegiatan konservasi merupakan fokus kerja bersama para pihak di kawasan Subang Selatan. Mulai dari pemkab, desa, perusahaan swasta penyedia barang dan jasa, perusahaan milik pemerintah dan masyarakat.

Menurutnya, air mempunyai peran yang vital dalam kehidupan makhluk hidup, manusia membutuhkan air untuk makan, minum, kebutuhan sekunder dan tambahan, hewan dan tumbuhan juga membutuhkan air untuk bertahan hidup. Potensi sumber daya air di Indonesia pertahun sebesar Rp3,9 triliun meter kubik dan baru terkelola dengan baik sebesar 691,3 miliar meter kubik pertahun. Dengan pentingnya peran air dalam kehidupan, diperlukan sistem pengelolaan air yang benar, karena jika salah dalam pengelolaan air dapat mengakibatkan bencana banjir, longsor, kekeringan dan berkurangnya sumber-sumber air bersih yang membahayakan keberlanjutan makhluk hidup.

“Melihat pentingnya sumber daya air dan kondisi sumber daya air saat ini, maka perlu dilakukan langkah-langkah dan dukungan multipihak untuk menyusun, mengimplementasi dan mengawasi tata kelola sumber daya air, salah satunya melalui Integrated Water Resources Management,” katanya.

Pengelolaan sumber daya air secara terpadu, April menjelaskan, merupakan sebuah proses yang mendorong terciptanya pengembangan dan pengelolaan sumber daya air, lahan, dan sumber daya lainnya yang terkait secara terkoordinasi sehingga upaya optimalisasi keuntungan ekonomi dan kesejahteraan sosial dapat dicapai secara berkeadilan tanpa mengorbankan keberlanjutan ekosistem.

“Rembug konservasi bertujuan untuk memberikan informasi mengenai konsep IWRM di DAS Cipunagara dan terpetakannya peran para stakeholder dalam pengelolaan sumber daya alam khususnya di wilayah Selatan Kabupaten Subang. Kami berharap, pemahaman konsep IWRM bagi para stakeholder di lingkup DAS Cipunagara dan terintegrasikannya peran para stakeholder dalam roadmap bersama,” tandasnya.

DAS Cipunagara menjadi fokus IWRM, merupakan salah satu DAS di Provinsi Jawa Barat dengan luas 1.200km2, dan panjang sekitar 147km yang melintasi 3 Kabupaten, yaitu Kabupaten Subang, Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Indramayu sebagai hilir dan bermuara di Laut Jawa.

Kabupaten Subang berbatasan dengan hulu DAS Cipunagara yaitu di Gunung Bukit Tunggul, Pegunungan Bandung Utara sehingga berkontribusi besar bagi hulu DAS Cipunagara. Berada di daerah pegunungan, menjadikan hulu DAS Cipunagara sebagai cathment area bagi kawasan di bawahnya.

“DAS Cipunagara berfungsi ganda, yaitu sebagai pengendali aliran air dan lokasi tangkapan air. Kawasan Subang Selatan menjadi lokasi tangkapan air bagi Kabupaten Subang yang sekaligus bagian dari hulu DAS Cipunagara. Ini merupakan tugas bersama para pihak khususnya di Kabupaten Subang untuk menyusun langkah dan upaya melindungi kawasan DAS Cipunagara dan sekitarnya sebagai bagian dari lokasi konservasi dari hulu ke hilir,” katanya.(*)

EnglishIndonesian