Lokakarya Pengembangan Produk Mete dan Kopi

Tanggal 17 Oktober lalu, Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM) mengadakan lokakarya mengenai upaya pengembangan produk mete dan kopi di kehutanan masyarakat di Bogor. Javlec hadir di acara tersebut karena ambil bagian dalam pengumpulan data mengenai perdagangan mete di wilayah Gunungkidul, Yogyakarta.

 

 

 

Acara tersebut membahas mengenai analisis nilai perdagangan kopi dan mete. Untuk kopi, data memakai riset di wilayah Hutan Desa Labbo dan Pattaneteang, Bantaeng, LMDH Bandung Utara, Hutan Kemasyarakatan Salut, Santong, dan Jenggala di Lombok Utara. Sedangkan untuk produk mete, penelitian dilaksanakan di Sulawesi Selatan, Lombok Tengah, dan Yogyakarta.

Perdagangan kedua komoditas tersebut memiliki rantai yang hampir mirip. Petani sebagai produsen mendapatkan keuntungan terkecil jika dibandingkan dengan upayanya. Sedangkan pedagang besar mendapat keuntungan tertinggi sekaligus yang memiliki resiko kerugian tertinggi.

Tanaman mete, berasal dari Brasil. Tumbuhan ini sering dipergunakan untuk penghijauan karena cepat tumbuh. Hampir semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan. Mulai dari daging biji mete, buah semu, kulit biji, batang, dan daunnya. Sayangnya, di Indonesia, baru biji metenya yang umum dipergunakan. Indonesia merupakan produsen nomer 9 mete dunia. Tetapi, kebanyakan Indonesia mengekspor masih dalam bentuk mete gelondongan yang diolah di Vietnam. Di berbagai wilayah yang menjadi lokasi riset, mete umumnya dijual ke pedagang atau pengepul di tingkat desa. Pedagang tersebut kemudian menjual ke pengepul lebih besar. Biasanya, mete sampai ke pengolah setelah melalui dua atau tiga pedagang.

Kopi merupakan perdu yang berasal dari Afrika. Di Indonesia, produsen kopi 90%nya merupakan perkebunan rakyat. Dengan luas lahan 1,3 juta hektar, perkebunan kopi mampu menghidupi sekitar 1,4 juta kepala keluarga. Industri kopi olahan di Indonesia beragam mulai dari kopi olahan rumah tangga yang dijual di pasar lokal tanpa merk hingga industri kelas besar yang menghasilkan mulai dari kopi instan, hingga kopi bubuk untuk ekspor. Pendapatan petani dari penjualan kopi masih rendah karena banyak yang belum melakukan perawatan kebun hingga hasil belum maksimal.

 

Add a Comment