Masyarakat Jepitu Sangat Mendukung Pembentukan Perdes Tata Ruang

Pembukaan FGD Tata Ruang Desa Jepitu
Sekdes Desa Jepitu saat membuka acara FGD Tata Ruang

Yayasan Javlec Indonesia bersama Pemerintah Desa Jepitu menggelar pertemuan dengan masyarakat desa Jepitu terkait dengan Tata Ruang. Acara yang di selenggarakan di Balai Desa Jepitu tanggal 14 November 2017 itu menghadirkan semua elemen masyarakat dari RT, RW, Dukuh, Tokoh Masyarakat, LPMP, Karang Taruna dan masyarakat lainnya.

Desa Jepitu merupakan salah satu dari 6 desa yang terpilih untuk kegiatan tata ruang, selain desa Kedungpoh, Putat, Banyusoca, Monggol dan Pacarejo. Kegiatan Tata Ruang Desa ini merupakan bagian kegiatan yang dilaksanakan oleh Yayasan Javlec Indonesia dalam kerjasama dengan Indonesia Climate Change Trush Fund (ICCTF) dalam proyek Mitigasi Berbasis Lahan pada Kawasan Karst, DAS Kritis dan Kawasan Konservasi di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Javlec tidak hanya memberi gambaran tata ruang saja, tetapi juga melatih masyarakat Jepitu untuk menyusun, membaca peta, menggunakan alat untuk titik-titik koordinat dan juga inventarisasi tata ruang. Hal ini dilakukan agar ke depan apabila ada perubahan, masyarakat Jepitu bisa mengupdate sendiri perubahan-perubahan yang terjadi.

Kebutuhan untuk menata ruang di tingkat desa semakin dibutuhkan oleh desa. Hal ini berkaca dari semakin meningkatnya pembangunan desa yang mempunyai dampak terhadap ruang, baik dari sisi pemanfaatan dan pengendalian. Sehingga penataan ruang menjadi hal penting untuk mengarahkan pembangunan desa sekaligus dapat meminimalisasi konflik ruang.

Pemaparan Tata Ruang Jepitu
Antusias masyarakat saat mendengarkan pemaparan pentingnya tata ruang

Tahapan pembentukan perdes tata ruang memang bukan hal yang mudah, butuh waktu yang panjang dan berhati-hati, karena nantinya akan menjadi produk hukum desa yang akan dipakai untuk waktu yang lama. Pemerintah desa Jepitu tidak ingin di kemudian hari akan terjadi permasalahan dengan masyarakat. “Untuk itu sebelum perdes ini ditetapkan, semua elemen masyarakat harus mengetahui lebih dahulu dan berdiskusi memberi masukan bersama-sama”, kata Bpk Kojo selaku Sekdes Jepitu saat mengawali acara FGD tata ruang.

Hal yang sama dijelaskan oleh Bpk Yoga selaku Pokja Desa dalam pemaparannya, “Kenapa tata ruang direncanakan untuk diterpakan di desa Jepitu?”, adalah untuk melindungi aktifitas masyarakat adat maupun masyarakat inovatif agar tidak berbenturan kepentingan dengan aktifitas masyarakat yang lain dalam menggunakan potensi wilayah dan ada banyaknya konflik kepentingan karena tidak adanya aturan tata ruang yang pasti.

Dimana hal ini bisa ditindaklanjuti dengan pembuatan perdes tata ruang dengan segala aspek yang terkait dan diharapkan perdes ini bisa mengatasi gejolak tersebut sampai dengan 20 tahun kedepan. Harapannya adalah masyarakat tidak mengalami kesulitan dalam menggunakan potensi wilayan nantinya.

Antusias masyarakat Jepitu dalam pertemuan ini sangat mendukung, hal ini terlihat dari banyaknya masukan dari beberapa elemen masyarakat yang menginginkan agar perdes tata ruang ini secepatnya dapat terealisasi.