Masyarakat Teluk Alulu Harus Menanggung Biaya Yang Tinggi

Dari empat kampung di Kecamatan Maratua yang tidak dapat dijangkau dengan mobil hanya ada satu kampung yaitu Teluk Alulu. Sementara ini akses menuju kampung Teluk Alulu hanya melalui laut. Namun Ironinya 150 KK atau sekitar 75 persen dari total KK di Teluk Alulu tidak memiliki perahu bermesin.

Di samping persoalan akses, persoalan lain yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa penduduk tidak menemukan adanya sumber air bersih di sekitar kampung yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selama ini penduduk mengandalkan tampungan air hujan untuk mencukupi kebutuhan air bersih. Namun jika musim kemarau tiba, penduduk Teluk Alulu pergi ke sumber air tawar di Teluk Harapan.

Jika tidak dapat mengambil air sendiri, penduduk dapat membeli air bersih dengan harga 100 ribu rupiah untuk 1.200 liter. Air ini hanya cukup untuk kebutuhan minum, masak dan mencuci alat dapur. Kebutuhan air untuk mandi diambil dari satu sumber air payau di sekitar kampung sedang kebutuhan air besar selalu di laut atau ladang. Sesungguhnya pemerintah pusat telah membantu masyarakat dengan menyediakan mesin untuk menyuling air laut menjadia air tawar tenaga surya. Namun salah satu elemen dari alat ini rusak sehingga alat ini tidak dapat berfungsi untuk menyuling air.

Sejak 2013 lalu kampung ini telah menggunakan PLTS sebagai sumber listrik. Aliran listrik dari PLTS ini bisa melayani penyediaan listrik selama 24 jam dengan jumlah watt yang dialirkan ke setiap rumah sekitar 700 watt. PLTS ini merupakan bantuan dari kementerian ESDM pada tahun 2013 dan hingga kini pengoperasiannya dilakukan oleh operator setempat yang dilatih oleh provider PLTS untuk melakukann pemeliharaan.

Sejak awal pembentukan badan pengelola PLTS ini memang sudah ada aturan main yaitu bahwa operator akan mematikan aliran listrik apabila sedang ada badai, angin kencang ataupun hujan lebat. Dan untuk pemeliharaan PLTS ini, pemerintah kampung memungut biaya sekitar 30 ribu rupiah per bulan dari setiap sambungan rumah. Jika jumlah SR sebanyak 135 dan iuran dana pemeliharaan sebesar 30 ribu, maka total dana yang dikumpulkan untuk pemeliharaan listrik sebanyak 4,05 juta rupiah. Dana ini kemudian dialokasikan untuk membayar pengelola dengan rincian honor 3 pengurus total 600 ribu, honor 2 operator total 2 juta dan sisa dana iuran setelah di potong untuk pengurus dan pengelola sebesar 1,45 juta akan ditabung untuk pembelian alat atau perawatan baterai.

SD teluk alulu
Salah satu Sekolah Dasar 04 di Teluk Alulu, Maratua (Foto Google)

Ketersediaan sarana pendidikan dan kesehatan di Teluk Alulu sangat terbatas. Dalam hal pendidikan sekolah yang terdapat di kampung ini hanya Taman Kanak Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) karena fasilitas pendidikan Kecamatan Maratua di pusatkan di kampung Payung Payung. Sedang sarana kesehatan yang terdapat di Teluk Alulu berupa puskesmas pembantu dengan tenaga medis yang tersedia bidan desa. Dokter dari puskesmas induk secara periodik akan mengunjungi kampung Teluk Alulu.

Untuk mata pencaharian, potensi sumber penghasilan di kampung ini sesunggunya ada 2 macam yaitu hasil kebun dan hasil laut. Kebun biasa merupakan harta warisan dari orang tua yang tidak dikembangkan secara maksimal oleh para ahli waris. Mereka hanya mengelola dan mengambil hasil kebun secara silih berganti dengan periode tergantung dari jumlah kakak beradik dalam keluarga itu.

Meski hasil kebun sangat potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber penghasilan namun sejauh ini penduduk kampung Teluk Alulu belum memanfaatkan hasil kebun sebagai sumber penghasilan mereka.

Kebun ini biasa ditanami dengan beberapa tanaman seperti singkong, pisang, mlinjo dan kelapa. Singkong dan pisang biasanya digoreng atau direbus untuk camilan dalam keluarga. Mlinjo pun hanya direbus kemudian diskonsumsi. Dan anehnya untuk memanen buah mlinjo, orang tidak mengambil buah demi buah tetapi menebang seluruh pohon mlinjo untuk mengambil mlinjo yang dibutuhkan. Hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak mengetahui nilai ekonomis dari pohon mlinjo.

Padahal para ibu tahu bahwa bahan dasar untuk membuat emping yang biasa mereka makan pada saat lebaran adalah mlinjo. Namun mereka tidak mengetahui bagaimana membuat emping mlinjo. Sayangnya jumlah pohon dan produktifitas tiap pohon mlinjo belum teridentifikasi dengan baik, sehingga sulit untuk memprediksi apakah pengembangan mlinjo Teluk Alulu bisa memiliki nilai ekonomis.

Berbeda dengan mlinjo, masyarakat sudah memiliki informasi cukup lengkap terkait kelapa, sehingga mereka bisa membuat minyak kelapa. Namun sejauh ini, kualitas produksi minyak kelapa para ibu tampaknya perlu ditingkatkan dan juga perlu dihubungkan dengan pasar minyak kelapa karena mereka tidak tahu kemana harus menjual minyak kelapa produksi mereka. Ketidak tahuan ini menjadikan minyak kelapa produksi para ibu hanya digunakan untuk keperluan rumah tangga mereka saja.

Penghasilan dari nelayan merupakan sumber penghasilan andalan bagi hampir seluruh keluarga di Teluk Alulu. Namun penghasil dari nelayan sebenarnya juga sangat terbatas karena kurangnya persediaan es yang bisa dibawa oleh nelayan saat melaut. Peredaran es di Teluk Alulu sangat dikuasai oleh pengepul ikan.

Bagaimana cara pengepul menguasai nelayan dan hasil tangkap ikan mereka?

Di seluruh kecamatan Maratua tidak ada pabrik yang memproduksi es. Beberapa tahun lalu, kementerian kelautan dan perikanan (kkp) telah membuat pabrik es dengan menggunakan PLTS sebagai energi. Pabrik es dan instalasi PLTS bantuan KKP didirikan di kampung Teluk Harapan. Namun saat ini pabrik tidak lagi berfungsi karena insatlasi PLTS tidak optimal. Kemudian, orang mencoba menggunakan mesin diesel sebagai pengganti motor penggerak pabrik. Tetapi penggunaan minyak solar dipandang tidak ekonomis karena es yang dihasilkan oleh pabrik menjadi lebih mahal. Oleh sebab itu, tidak mau membeli es dan pada akhirnya pabrik es menghentikan kegiatan produksi es.

Untuk dapat memperoleh es guna mengawetkan hasil tangkapan ikan, penduduk Teluk Alulu harus membeli ke Tanjung Redeb, ibukota Kabupaten Berau dengan lama perjalanan sekitar 12 jam jika kapal menggunakan 2 mesin dongfeng dan bisa mencapai 14 jam jika hanya menggunakan 1 mesin saja. Mengingat jarak dan waktu yang lama, tidak semua orang dapat membeli es itu sehingga pasokan es disediakan oleh 4 orang pengepul ikan yang ada di kampung Teluk Alulu.

perahu nelayan
Perahu nelayan Teluk Alulu, Maratua (Foto Google)

Balok es yang dibeli para pengepul ikan itu biasanya berukuran 70x20x20 centimeter dengan harga sekitar 12 ribu rupiah. Mengingat kapasitas angkut kapal dengan mesin dongfeng yang digunakan pengepul terbatas, mereka hanya mampu mengangkut 70 balok es setiap kali pembelian. Jumlah ini akan mencair dalam waktu maksimum 10 hari. Sebagian besar es balok digunakan oleh pengepul sendiri untuk menyimpan ikan. Hanya sebagian kecil yang diberikan kepada nelayan.

Setiap delapan orang nelayan mendapat 1 balok es untuk menyimpan ikan tangkapan di laut. Nelayan yang mendapatkan balok es dari pengepul “harus” menjual ikan kepada pengepul yang memberi es. Jika tangkapan ikan banyak dan nilai jualnya tinggi maka nelayan harus membayar es yang diberikan. Tetapi jika tangkapan ikan sedikit dan nilai jualnya tidak terlalu tinggi, pengepul terkadang membebaskan nelayan dari pembayaran es atau memberi secara gratis. Dengan cara seperti ini, seorang pengepul ikan dapat mengumpulkan ikan sebanyak 1,1 ton dalam satu minggu.

Seberapapun besar penghasilan penduduk Teluk Alulu namun sesungguhnya mereka sulit untuk berkembang karena besarnya pengeluaran.

Hasil analisis kalender musim, menjelaskan bahwa masyarakat Teluk Alulu banyak mengeluarkan biaya untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak dan juga untuk membeli air terutama pada menjelang musim kemarau hingga musim hujan tiba.

Sebagaimana hasil FGD (Focus Group Disscussion) lainnya, pendapatan masyarakat Teluk Alulu sangat bergantung pada musim. Menurut informan kunci, jika musim ikan kerapu dengan yang harganya tinggi, maka penghasilan nelayan bisa tinggi atau sekitar 2 juta per hari, namun kebanyakan pendapatan bersih nelayan dengan kapan Swan sekitar 50 ribu, dan untuk kapal dengan mesin dongfeng sekitar 100 ribu per hari.

Namun dari sisi pengeluaran, masyarakat Teluk Alulu harus menanggung biaya sekolah angka tinggi terutama untuk transport anak menuju sekolah menggunakan 2 jenis kendaraan, perahu dan sepeda motor, dan demikian pula saat mereka kembali dari sekolah. Tidak hanya itu, masyarakat di Teluk Alulu harus membeli air bersih terutama menjelang musim kemarau sampai dengan musim penghujan tiba.

Harga air bersih cukup tinggi, yaitu 100 ribu untuk 1.200 liter air dan jumlah ini hanya cukup untuk 10 hari saja. Artinya dalam sebelum bisa memerlukan lebih banyak untuk pengeluaran air bersih. Dari penjelasan secara kasar ini tampak bahwa sesungguhnya masyarakat Teluk Alulu sangat rentan miskin. Meski mereka memiliki pendapatan besar, namun pendapatan mereka ini akan cepat habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti kebutuhan anak sekolah maupun pengadaan air bersih bagi keluarga.

EnglishIndonesian