Pabrik Es, Harapan Masyarakat Teluk Alulu

Kampung Teluk Alulu

Masyarakat Alulu sebagian besar adalah nelayan ikan. Biasanya mereka membeli perlengkapan sebelum menangkap ikan di Tanjung Batu. Perlengkapan yang cukup penting dan harus dibawa adalah es batu guna mengawetkan ikan hasil tankapan. Karena lokasi belanja yang jauh ini memakan waktu dan bahan bakar yang berlebih. Alhasil beberapa nelayan tidak menggunakan es batu, sehingga mereka berusaha membuat ikan hasil tangkapannya tidak mati, dengan cara menaruh ikan di kotak atau drum yang berisi air laut. Ini bisa dilakukan namun berpengaruh pada jumlah hasil tangkapan.

Dari 20 ikan yang ditangkap dan diupayakan hidup, biasanya ada yang mati 5-10 ekor. Ikan yang mati dan tanpa diawetkan menggunakan es batu harga jualnya turun. Ikan mati tersebut diterima penadah ikan namun lebih digunakan untuk pakan ikan di karamba apungnya. Terkadang para penadah ini pun enggan membeli ikan yang sudah tidak segar tersebut, alhasil beberapa nelayan terpaksa membuangnya.

benner proyek
Banner informasi proyek yang dikerjakan Javlec Konsorsium dengan MCA Indonesia (Dok. Javlec)

Pengadaan pabrik es batu ini memberikan harapan baru bagi para nelayan di Alulu. Penduduk merespon baik perencanaan ini. Bahkan warga pun dengan senang hati meminjamkan tanahnya untuk pembangunan Pabrik Es dan PLTS. Pemilihan lokasi pembangunan PLTS dipilih bersama-sama. Sempat satu kali pindah lokasi karena pemilik tanah tidak jadi meminjamkan tanahnya. Namun hal tersebut bukan satu persoalan yang berat, karena tidak perlu waktu lama ada lagi warga yang menawarkan tanahnya, kali ini jauh lebih dekat dengan laut, sehingga aksesnya lebih mudah.

Penentuan lahan dilakukan melalui rapat bersama penduduk Alulu. Mulanya lokasi yang diusulkan adalah tanah milik salah satu warga. Secara geografis tanah, kondisi tanah tersebut bagus, sesuai dengan syarat pendirian lingkungan di kawasan pesisir. Namun karena ada persoalan jangka panjang terkait pemanfaatan lahan, akhirnya lokasi dipindahkan di tanah milik Pak Kirno. Pak Guru memberikan tuntutan kepada Javlec apabila tanah miliknya digunakan sebagai lokasi pabrik es dan PLTS, dia berharap keluarganya bekerja di pabrik tersebut. Di waktu itu, Javlec belum menentukan sistem pembagian kerja di dalam pengelolaan pabrik es dan PLTS. Alhasil persiapan lahan bangunan tertunda sampai ada perencanaan yang jelas terkait pembagian kerja.

Ketika perencanaan PLTS sudah matang, pertemuan dengan warga berlangsung kembali untuk memutuskan dimana lokasi pabrik es dan PLTS. Dikarenakan penundaan yang cukup lama Pak Guru tidak jadi meminjamkan lahannya. Alhasil Pak Jumin dan Pak Kirno bersedia meminjamkan lahan untuk pabrik dan PLTS. Di dalam serah terima lahan, Javlec membuat kontrak dengan pemilik lahan, bahwa selama lahan masih digunakan pemilik dan anggota keluarga tidak boleh meminta kembali lahannya. Apabila kegiatan pabrik dan PLTS berhenti pemilik lahan boleh mengambil kembali lahan miliknya. Di dalam perjanjian itu pula, anggota keluarga pemilik lahan boleh bekerja di pabrik es dan PLTS.

Ketika lahan sudah didapat, tahap berikutnya adalah pembersihan lokasi dari rumput dan pohon. Pengerjaan ini dilakukan bersama-sama oleh penduduk Alulu. Penggerakan masa yang dilakukan oleh Javlec ini dimulai dengan pemetaan aktor-aktor kunci guna mengeksekusi program. Pembuatan pabrik es dan PLTS bukan hanya sekedar membangun fasilitas kemudian ditinggal begitu saja.

Jauh sebelum pabrik es itu dibangun, Javlec telah membekali penduduk Alulu tentang pemahaman teknis pengoperasian PLTS dan Pabrik Es. Ada beberapa aktor yang dilibatkan dalam proses pelatihan. Warga diberikan materi bagaimana mengoperasikan peralatan tersebut. Teknologi yang ditawarkan oleh Javlec ini merupakan teknologi baru. Javlec memunculkan aset baru dengan melihat potensi yang ada di Alulu.

PLTS akan digunakan dalam pengoperasian pabrik es. Matahari Alulu memadahi dan merupakan modal dalam pembangunan PLTS. Listrik rumah tangga di Alulu pun saat ini menggunakan PLTS. PLTS di Alulu pun dioperatori oleh warga, Pak Sahdin namanya. Pak Sahdin tidak menempuh sekolah formal guna memahami sistem kerja PLTS, dia mengikuti pelatihan dari pihak menyedia jasa PLTS. Kini sudah lebih dari 1 tahun dia menjadi operator PLTS di Teluk Alulu.

pemasangan panel surya
Pemasangan panel surya sebangai pembangkit listrik untuk Pabrik Es (Dok. Javlec)

Aktor kunci selain kepengurusan kampung adalah Pak Kaprawi yang biasa dipanggil Si Om. Usianya lebih dari 60 tahun namun semangatnya tidak akalah dengan anak muda. Beberapa anak muda di Alulu cukup dekat dengannya. Pengetahuan umumnya membuat Pak Kaprawi bisa membaur dengan berbagai kalangan usia di Alulu. Salah satu anak muda yang diajukan Pak Kaprawi guna terlibat dalam pembuatan pabrik es dan PLTS adalah Nana.

Nana merupakan anak laki-laki pertama Ibu Eli, dia adalah alumni salah satu kampus di Samarinda. Setelah kelulusannya di kampus tersebut dia kembali ke Alulu kemudian dilibatkan dalam kepengurusan BUMK. Pengetahuan akan manajemen sumberdaya laut dianggap sebagai potensi pengetahuan yang bisa mengembangkan program BUMK di sektor laut.

Pabrik es dan PLTS dibangun guna mendukung berkembangnya ekonomi penduduk Alulu di sektor kelautan. Tentu saja di dalam prosesnya membutuhkan orang yang dianggap ahli untuk memberikan konstribusi pemikiran. Nana sendiri sudah terlibat dalam setiap program pelatihan yang ada di Alulu. Menurut Nana, selain pengemban hasil tangakapan ikan, melalui pabrik es potensi minyak kelapa yang di olah oleh perempuan Alulu bisa menjadi peluang peningkatan ekonomi.

Minyak kelapa selama ini hanya digunakan untuk kebutuhan lokal Alulu, terkadang menjadi alat tukar pengganti uang. Menurut Nana, program pengembangan produk seperti inovasi kemasan yang dilakukan oleh Javlec, besar kemungkinan membuka peluang kelayakan produk untuk didistribusikan lebih luas. Minyak kelapa bisa menjadi oleh-oleh wisata. Bahkan lebih dari itu, minyak kelapa bisa dipasarkan di Tanjung Batu. Ketika kemasan dan kualitas produk terus ditingkatkan, minyak kelapa bisa bersaing dengan minyak sawit yang beredar dipasaran.

Penduduk Alulu tidak memanfaatkan kelapa sebagai kopra seperti di wilayah kepulauan lain di Indonesia. Melihat asal muasal mereka, Alulu adalah orang Bajo, yakni orang yang hidupnya tergantung dari pemanfaatan hasil laut. Berkebun bukanlah aktifitas utama bagi orang Bajo.

EnglishIndonesian