Perempuan Sentang dan Bustanussalam Produksi Souvenir Berbahan Daun Pandan

Masyarakat khususnya para perempuan di Desa Sentang dan Bustanussalam di Kecamatan Blangkejeren, Gayo Lues sejak beberapa bulan terakhir ini tampak giat berlatih dan belajar bersama pendamping lapangan Yayasan Java Learning Center (Javlec) untuk memproduksi aneka kerajinan souvenir berbahan daun pandan.

Field Assistant (FA) atau asisten lapangan Bustanussalam dan Sentang yakni Zulaika dan Aduk di sela-sela kegiatan pelatihan menganyam yang digelar pada Jum’at (13 April 2018) sore di Sentang menjelaskan, Javlec berharap, kedepan souvenir berbahan daun pandan tersebut bisa menjadi brand (merek) andalan terbaru bagi kedua desa tersebut di Gayo Lues.

Gayo Lues merupakan salah satu kabupaten yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik lokal maupun asing, khususnya wisatawan seni budaya dan alam, jadi kita manfaatkan hal tersebut untuk memasarkan potensi lokal kampung Sentang dan Bustanussalam khususnya souvenir berbahan daun pandan, dengan harapan untuk meningkatkan kreativitas perempuan agar kedepan bisa hidup mandiri,” terang Zulaika didampingi Aduk di Kantor Lapangan Javlec Gayo Lues, Desa Leme, Blangkejeren.

Zulaika menambahkan, hingga saat ini para pengrajin baru memproduksi sejumlah gantungan kunci dan pernak-pernik kecil lainnya. Saat ini, lanjut Zulaika, para pengrajin masih belajar melakukan inovasi mengenai jenis dan model yang menarik agar diminati pembeli.

gantungan kunci
Gantungan kunci dari daun pandan hasil kerajinan masyarakat desa Sentang dan Bustanussalam

“Jika masyarakat produktif, kita (Javlec) akan melakukan kerjasama dengan beberapa pelaku usaha menengah di Gayo Lues. Seperti hotel, cafe, swalayan dan toko souvenir untuk pemasaran barang,” terang Zulaika sembari menambakan, bagi masyarakat yang berminat dengan gantungan kunci produksi masyarakat Sentang dan Bustanussalam dapat menghubungi dirinya melalui akun WhatsApp (WA) : 0812 6956 4768 atau Aduk (0812 6976 4302).

Sementara itu, Koordinator Lapangan Javlec Gayo Lues, Rizki Murti menjelaskan, pelatihan tersebut sebagai rangkaian program Javlec tentang Pengelolaan Hutan Kolaburatif Berbasis Potensi Lokal di sejak awal tahun 2017 lalu. Sentang dan Bustanussalam merupakan dua dari lima desa yang mendapat dampingan dari Javlec dalam program di Blangkejeren yakni Agusen, palok dan Penggalangan, terang pria yang akrab disapa Boim ini.

Lanjutnya, Javlec merupakan sebuah Yayasan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat desa hutan, memperluas ruang kelola serta memperkuat hak akses masyarakat pada pengelolaan sumber daya hutan, memfasilitasi pengembangan pengetahuan, penguatan organisasi masyarakat sipil, serta berbagai ikhtiar perbaikan kebijakan penyelenggaraan pengelolaan sumber daya alam yang adil dan demokratis. Semua itu dilakukan dalam rangka ikut berkontribusi bagi terciptanya tata pengurusan hutan yang baik (good forestry governance) di Indonesia.

Sementara itu, USAID Lestari yang menjadi mitra dan membantu perjalan program Javlec di Gayo Lues turut mendukung upaya Pemerintah Republik Indonesia menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK), melestarikan keanekaragaman hayati di ekosistem hutan dan mangrove yang bernilai secara biologis serta kaya akan simpanan karbon. USAID Lestari menerapkan pendekatan lanskap untuk menurunkan emisi GRK, dengan mengintegrasikan aksi konservasi hutan dan lahan gambut dan strategi pembangunan rendah emisi (LEDS) di lahan lain yang sudah terdegradasi. Kegiatan Lestari dilaksanakan di enam lanskap strategis di Aceh, Kalimantan Tengah dan Papua, demikian Boim. (FA)

EnglishIndonesian