Peringatan 5 tahun IUPHKm

Pada tanggal 14-17 Desember 2012, Paguyuban Hkm Bukit Seribu dan Yayasan Shorea atas dukungan Javlec dan Kemitraan menyelenggarakan acara Peringatan 5 tahun IUPHKm. Acara tersebut mengambil lokasi di Desa Karangasem, Paliyan, Gunungkidul, Yogyakarta.

 

Rangkaian kegiatan tersebut muncul akibat lambatnya Kementrian Kehutanan menurunkan ijin kayu. Di Propinsi DIY, para petani hutan mulai menanam kayu di hutan negara pada tahun 1995, 1998 dan sebagian besar pada tahun 2003. Meskipun petani hutan yang tergabung dalam 42 kelompok pengelola hkm di Gunungkidul dan Kulonprogo memperoleh ijin tetap pengelolaan hutan pada tanggal 15 Desember 2007, mereka belum berani melakukan penebangan.  Ribuan KK yang mengelola 1.287,45 hektar hutan di Gunungkidul dan Kulonprogo hingga minggu lalu belum berhasil mendapatkan ijin pemanfaatan kayu. Untuk itu, para petani yang tergabung dalam Paguyuban HKm Bukit Seribu berkumpul untuk meminta pemerintah serius menyelesaikan permasalahan mereka.

Kegiatan dimulai dengan acara pameran produk petani hutan. Koperasi-koperasi yang mewadahi petani HKm dan hutan rakyat menggelar hasil hutan yang menjadi mata pencaharian mereka. Mulai dari madu, ukiran kayu, makanan olahan, hingga bibit tanaman. Malam harinya, penduduk Desa Karangasem dihibur dengan pertunjukan campursari dan wayang semalam suntuk dengan judul “Semar Mbangun Khayangan”. Pada kesempatan ini, Bupati Gunungkidul dan Direktur Bina Perhutanan Sosial hadir dan membuka acara.

Hari kedua diisi dengan roadshow ke lokasi-lokasi HKm. Sekitar 50an petani hutan dan pemerhati kehutanan mengikuti acara tersebut dengan mengendarai jeep. Lokasi pertama adalah Hutan Lindung Watu Payung di Kecamatan Panggang yang dikelola oleh penduduk desa sebagai lokasi wisata alam. Pada tahun 1999 hingga awal 2000an, hutan tersebut gundul akibat penjarahan. Saat pemerintah mengeluarkan program HKm, masyarakat menanami hutan tersebut dengan harapan kelak akan mendapat bagi hasil kayu. Namun, muncul peraturan yang mengubah lokasi tersebut menjadi hutan lindung. Masyarakat kemudian memanfaatkan hutan tersebut sebagai lokasi outbond untuk mendapat pemasukan. Mereka melakukan swadaya untuk membangun balai pertemuan, gardu pandang, dan sarana mck. Masyarakat setempat ingin supaya pemerintah peduli dan membantu mereka melengkapi sarana yang ada dan melatih pengelola hutan wisata.

Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke lokasi HKm di Playen. Di sana peserta roadshow disuguhi pemandangan kayu jati yang terlalu rapat dan tumbuh kecil-kecil. Lokasi terakhir adalah HKm di Desa Bleberan. Di tengah-tengah sesi makan siang, Ngabdani, Ketua Paguyuban HKm Pegunungan Seribu menceritakan mengenai perbedaan antara hutan yang di kelola dengan sistem HKm dan Gerhan. Peserta bisa melihat langsung bahwa di HKm pohon masih utuh sedangkan di lokasi Gerhan, pohon banyak yang rusak atau hilang.

Hari ketiga diisi dengan sarasehan bersama Prof DR. Ir. San Afri Awang, MSc (Staf Ahli Menteri Bid Kelembagaan) dan Prof DR. Ir. Suhardi, MSc. Di acara ini para petani hutan menyampaikan keluhannya seputar keseriusan pemerintah terhadap program kehutanan yang menyejahterakan masyarakat. Pada saat itu, petani hutan meminta supaya menteri kehutanan menurunkan ijin kayu secepatnya.

Hari terakhir, menteri kehutanan datang berserta rombongan para direktur di Departemen Kehutanan. Setelah berdiskusi bersama petani, beliau kemudian  menandatangani ijin kayu. Menteri Kehutanan juga menyerahkan bantuan senilai Rp. 1.750.000.000 untuk pembangunan kebun bibit rakyat di 35 kelompok tani hutan. Acara tersebut diliput oleh belasan wartawan dari media cetak dan TV.

Add a Comment