Riset Energi Terbarukan Sangat Penting dalam Menghadapi Perubahan Iklim

FORDA (Bogor, 02/02/2016)_Riset untuk menemukan energi terbarukan yang efisien sangat penting dan diperlukan dalam mengahadapi perubahan iklim. Hal ini diungkapkan oleh Mr. Stig Traavik, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia saat menjadi narasumber dalam seminar “What’s Next After Paris Agreement” di Jakarta Convention Center, Senin (01/02/2016).

Traavik menjelaskan dengan adanya alternatif energi terbarukan tersebut bisa mengurangi pemakaian energi fosil, yang menjadi salah satu sumber emisi karbon. Penghematan atau pemanfaatan energi fosil secara efisien juga dilakukan di Norwegia. Hal ini merupakan langkah yang ditempuh oleh Pemerintah Norwegia sebagai upaya untuk menurunkan emisi atau mempertahankan emisi tidak naik.

“Dalam menghadapi perubahan iklim, kita perlu enegi terbarukan. Selain itu, juga perubahan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan,”kata Traavik.

Mendukung hal tersebut, Mr. Robert O. Blake, Jr. Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, menyatakan diperlukan banyak inovasi untuk menghadapi perubahan iklim terutama energi terbaru untuk mengurangi penggunaan energi bbm fosil. Bahkan Amerika serikat telah mengeluarkan aturan untuk menghemat 30% energi dari batu bara.

“Peran inovasi sangat penting, khususnya energi terbarukan. Dorong inovasi untuk mengurangi penggunaan bbm fossil. Regulasi sangat diperlukan,”tegas Blake.

Blake menyatakan bahwa di Paris telah menghasilkan komitmen yang penting untuk mempercepat inovasi global energi bersih. Dimana 80% dari 20 negara yang yang menandatangani konsorsium energi sepakat untuk menggandakan anggaran penelitian energi bersih. Selain itu, ada 28 investor yang akan memberikan modal tahap awal untuk menangani tantangan inovasi tersebut.

“Kedua kelompok tersebut akan mencari sumber energi bersih yang bermanfaat baik bagi Bangsa Indonesia maupun negara lain, termasuk Amerika Serikat,”kata Blake.

Terkait clean energy atau energi bersih, Mr. Douglas Broderick, UN Ressident Coordinator menyatakan mereka akan bekerjasama dengan Bangsa Indonesia untuk energi bersih dan meningkatkan kapasitas litbang untuk memastikan banyak orang yang terlibat.

“Kami juga akan menyiapkan teknologi litbang untuk teknologi hijau dan akan menggandakannya untuk 25 tahun ke depan. Selain itu, kami juga akan memastikan implementasinya,”tegas Douglas.

Di sisi lain, Dr. Peter Halmgreen, Diector General of the Center for International Forestry Research (CIFOR) sangat setuju bahwa inovasi sangat diperlukan dalam perubahan iklim untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Tetapi Inovasi tersebut, tidak hanya fokus dalam bidang energi terbarukan tetapi juga bidang yang selaras dengan agenda pembangunan nasional.

“Peran Penelitian penting, bahkan sangat penting. Kita perlu membangun rasa percaya diri. Kita perlu membangun di atas bukti. Kita perlu mengemukakan argumen berdasarkan ilmu dan obyektif,”tegas Peter.

Namun Peter mengingatkan bahwa dalam kegiatan penelitian harus bisa menerima kompleksitas. Dimana kita harus memperluas perspektif, menyelaraskan dan mengintegrasikan dengan agenda pembangunan nasional, termasuk perubahan iklim.

Seminar “What’s Next After Paris Agreement” merupakan agenda awal dari serangkaian kegiatan Festifal Perubahan Iklim yang dilaksanakan selama 4 hari pada tanggal 1- 4 Februari 2016 di Jakarta Convention Center. Kegiatan tersebut merupakan hasil kerjasama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), United Nations Development Programme (UNDP) dan Duta Besar Noorwegia untuk Indonesia. Selain itu, Festifal ini menunjukkan tindak lanjut Bangsa Indonesia atas Kesepakatan Paris. Sedangkan Badan Litbang dan Inovasi dalam festival PI berkontribusi dengan memamerkan bahan publikasi hasil litbang baik dalam bentuk buku, leflet, booklet, film dan foto-foto riset terkait dengan perubahan iklim ***THS.

EnglishIndonesian