Javlec Dampingi KUPS dalam Konsolidasi Perempuan Pengelola Perhutanan Sosial
Kegiatan Konsolidasi Perempuan Pengelola Perhutanan Sosial yang diinisiasi oleh Akar Global Inisiatif diselenggarakan pada 28-29 September 2026 bertempat di Hotel Tamarin, Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang bagi kelompok perempuan pengelola Perhutanan Sosial dari berbagai wilayah untuk berbagi pengalaman, memperkuat kapasitas, serta membangun jejaring dan usaha kolektif perempuan.

Peserta terdiri atas perwakilan kelompok perempuan pengelola Perhutanan Sosial dari berbagai daerah, meliputi Bengkulu, Jambi, Kalimantan, Sumatera Selatan, Sumatera Barat. Kegiatan juga melibatkan WRI Indonesia, KKI Warsi, Pilar Nusantara, JARI Borneo Barat, Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA), PPSW Riau sebagai jaringan pendamping. Pada pelaksanaan kegiatan, Daerah Istimewa Yogyakarta diwakili oleh Ibu Sudarmi dari KUPS Empon-empon KTHKm Sedyo Rukun, Gunungkidul dan Ibu Dwi Susilastuti dari KUPS Jasa Lingkungan KTHKm Mandiri, Kulon Progo, dengan pendampingan fasilitator dari Yayasan JAVLEC Indonesia.
Hari pertama diawali dengan pembukaan yang menampilkan kesenian daerah, kemudian pengenalan peserta melalui sesi “Lingkar Cerita Perempuan Penjaga Hutan”. Pematerian kesatu bertajuk “Kewirausahaan Perhutanan Sosial Berbasis Gender” oleh Subdit Kewirausahaan KUPS. Materi menekankan penguatan peran perempuan dalam pengembangan KUPS, mulai dari kelembagaan, peningkatan kualitas dan nilai tambah produk, pemasaran, akses pembiayaan, hingga pengembangan jejaring usaha. Kegiatan dilanjutkan dengan sharing session dari setiap organisasi pendamping KUPS. Para pendamping berbagi pengalaman, praktik pendampingan, serta tantangan yang dihadapi di lapangan, terutama terkait masih terbatasnya keterlibatan perempuan dalam proses pengelolaan, kelembagaan, dan pengembangan usaha Perhutanan Sosial. Sesi ini menjadi ruang untuk bertukar strategi dalam mendorong partisipasi perempuan yang lebih aktif.

Hari kedua diisi dengan materi “Pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Berbasis Climate Smart Agriculture” dari Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian. Paparan menekankan tiga tujuan utama, yaitu meningkatkan produktivitas dan kualitas, memperkuat adaptasi terhadap perubahan iklim, serta mengurangi emisi melalui praktik pengelolaan yang lebih berkelanjutan.
Materi juga menyoroti pentingnya diversifikasi usaha, agroforestri, pengolahan produk bernilai tambah, penggunaan informasi iklim, konservasi tanah dan air, serta pembukaan lahan tanpa bakar. Ibu Nilam selaku pemateri menyampaikan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam seluruh rantai usaha, mulai dari pembibitan dan pemanenan, pengolahan dan pengemasan, hingga pemasaran dan pengelolaan usaha kelompok.
Sesi berikutnya merupakan visioning usaha kolektif, peserta diajak menyusun visi usaha dan gerakan perempuan untuk mendukung tata kelola hutan yang lebih adil dan inklusif.

Rangkaian hari kedua dilanjutkan dengan refleksi tentang peran perempuan dalam tata Kelola usaha Perhutanan Sosial. Ibu Ruth Indiah Rahayu menyampaikan “Gerakan Menghidupkan Kembali Commoning Care”. Dalam konteks kegiatan ini, communing care menekankan pentingnya praktik merawat secara bersama–baik terhadap sumber daya, relasi sosial, maupun kehidupan komunitas–sebagai bagian dari penguatan usaha kolektif perempuan. Pendekatan ini mengajak peserta untuk memahami bahwa usaha kolektif tidak semata sebagai kegiatan ekonomi, tetapi juga sebagai ruang kebersamaan, saling mendukung, dan menjaga keberlanjutan komunitas serta lingkungan.
Konsolidasi ini memperkuat pertukaran pengetahuan antardaerah sekaligus membuka peluang jejaring dan kolaborasi bagi KUPS perempuan. Bagi perwakilan Yogyakarta, kegiatan menjadi ruang untuk berbagi pengalaman pengembangan usaha sekaligus memperoleh pembelajaran terkait penguatan kelembagaan, nilai tambah produk, adaptasi perubahan iklim, serta pengembangan usaha kolektif yang berkelanjutan.
Muthia,
Pendamping Lapangan
