Upaya Konservasi di Hulu Sub DAS Gajah Wong Yogyakarta
Sub DAS Gajah Wong merupakan bagian dari DAS Opak dengan hulu di daerah Hargobinangun, Pakem, Sleman. Hulu suatu DAS sangat penting untuk menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi kondisi di bawahnya. Apabila kondisi ekologis daerah hulu baik maka kondisi dibawahnya akan relatif baik.
Namun, apabila kondisi hulu rusak maka kondisi dibawahnya akan terganggu. Contoh gangguan akibat hulu DAS yang rusak misalnya seperti kekurangan ketersediaan air tanah, pencemaran air, banjir, dan lain-lain. Oleh karena itu, daerah hulu patut menjadi perhatian bersama, baik masyarakat, pemerintah, maupun swasta. Kegiatan konservasi sangat penting untuk dilakukan di daerah hulu.
Konservasi dapat dilakukan dengan cara sipil teknis dan vegetatif. Bentuk konservasi sipil tenis dapat beraneka ragam misalnya seperti pembuatan terasering, guludan, gully plug, bendungan, sumur resapan, dan lain-lain. Pemilihan bentuk konservasi sipil teknis disesuaikan dengan kondisi dan bentuk lahan.
Bentuk konservasi sipil teknis yang dilakukan di Kalurahan Hargobinangun yaitu dengan pembuatan sumur resapan dan rorak. Pembuatan bangunan konservasi sudah dimulai dari tahun 2022.
Pada tahun 2022 telah dibangun sumur resapan sebanyak 5 unit, tahun 2023 sebanyak 26 unit, tahun 2024 sebanyak 26 unit, dan tahun 2025 sebanyak 23 unit, sehingga total semuanya saat ini telah terbangun 80 unit sumur resapan yang tersebar di Padukuhan Kaliurang Timur dan Kaliurang Barat, Kalurahan Hargobinangun.
Pembangunan sumur resapan dibuat dengan tambahan bak kontrol agar mudah dalam perawatannya. Bak kontrol dibuat dengan kedalaman 50 cm dan lebar 80 cm x 80 cm. Sementara sumur resapan dibuat dengan kedalaman 1,5 meter atau setara dengan 3 buis beton dengan ukuran diameter 80 cm. Sumur resapan dibangun pada titik-titik genangan air ataupun jalannya air di pekarangan rumah. Dengan adanya sumur resapan diharapkan limpasan air permukaan tanah dapat berkurang dan resapan air semakin tinggi sehingga dapat meningkatkan keberadaan air dalam tanah.
Selain sumur resapan, konservasi sipil teknis juga dibuat rorak. Rorak merupakan galian atau lubang parit buntu yang dibuat pada suatu lahan. Pembuatan rorak di Padukuhan Kaliurang Timur berada di bawah tegakan kayu putih sebanyak 60 unit dan beberapa unit lainnya tersebar di lahan kopi Tankaman. Rorak dapat berfungsi sebagai penampung air hujan, menangkap erosi tanah, dan sumber nutrisi organik. Oleh karena itu, selain meningkatkan resapan air dalam tanah rorak juga dapat meningkatkan kesuburan tanah yang dapat mendukung produktifitas tanaman.
Sementara itu, upaya konservasi vegetatif merupakan salah satu cara konservasi dengan memanfaatkan tanaman ataupun sisa-sisa tanaman untuk mengurangi erosi. Kegiatan konservasi vegetatif yang dilakukan di Kalurahan Hargobinangun khususnya di Padukuhan Kaliurang Timur dan Kaliurang Barat yaitu dengan melakukan kegiatan penanaman berupa 300 batang kopi robusta dan 50 batang tanaman Multi-Purpose Tree Species (MPTS) dengan jenis alpukat dan kelengkeng. Konservasi vegetatif dapat mencegah terjadinya erosi dan menjaga kesuburan tanah dengan memanfaatkan tanaman untuk menahan air hujan. Selain memiliki manfaat secara ekologis, konservasi vegetatif juga memiliki nilai ekonomi dari hasil tanaman. (Adrika)
